Bandit Laut Tangkolak Penyelamat Terumbu Karang Sendulang
- account_circle Yuda Febrian Silitonga
- calendar_month Senin, 15 Sep 2025
- visibility 81

Foto udara Gugusan Terumbu Karang Sendulang. (Dok. Istimewa)
“Sampah berserakan, pemukiman kumuh, dan warganya yang tidak ramah. Apalagi lautnya. Jangankan berbicara tentang kehidupan bawah laut, airnya saja berwarna coklat keruh.”
Ungkapan tersebut adalah suara hati kecil saya saat menuju lokasi program OTAK JAWARA (Orang Tua Asuh Karang di Laut Utara Jakarta dan Jawa Barat) di Desa Sukakerta, Dusun Tangkolak, Kecamatan Cilamaya Wetan bersama tim dari PHE ONWJ (PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java), Senin (8/9/2025) lalu.
Sebagai jurnalis kelahiran Karawang yang juga pernah meliput di wilayah pesisir, wajar jika saya memiliki pandangan seperti itu. Namun, sesampainya di Dusun Tangkolak, saya seolah dikejutkan oleh realitas yang berbeda. Begitu saya turun dari mobil, para warganya menyambut saya dengan senyum ramah dan sapaan yang hangat.
Saat matahari tepat di atas kepala, tim PHE ONWJ mengajak saya menuju dermaga. Sepanjang perjalanan, saya melihat suasana yang sangat berbeda dari apa yang saya bayangkan. Rumah-rumah warga di sana tidak kumuh sama sekali, kondisinya sama seperti rumah yang saya tempati. Di sisi lain, dari kejauhan, mata saya dimanjakan oleh pemandangan perahu nelayan yang hilir mudik. Ada yang baru berangkat melaut, dan ada juga yang sudah kembali dengan membawa tumpukan peti berwarna biru yang ukurannya mirip kotak es batu milik pedagang kaki lima.
Perjalanan kami berhenti sejenak. Tim PHE ONWJ memberikan saya waktu untuk mendengarkan informasi tentang apa yang telah mereka kerjakan bersama warga sekitar. Seorang pria bertubuh sedikit tambun dengan rompi abu-abu menjelaskan bahwa program OTAK JAWARA berfokus pada konservasi terumbu karang. Ia juga memperkenalkan kelompok warga PAS singkatan dari Pandu Alam Sendulang, yang diketuai oleh Dama Saputra, pemuda Dusun Tangkolak berumur 37 tahun. Setelah penjelasan itu, prasangka buruk kembali hadir. Hati kecil saya pun kembali bertanya-tanya.
“Emang ada karang di laut coklat keruh kayak gini?”
Karena belum ada sesi tanya jawab, perjalanan pun berlanjut. Tim PHE ONWJ mengajak saya untuk melihat dan merasakan langsung upaya konservasi terumbu karang di Gugusan Terumbu Karang Pantai Sendulang. Saat itu juga, saya teringat lirik lagu Ibu Sud:
Nenek moyangku seorang pelaut, Gemar mengarung luas samudra, Menerjang ombak, tiada takut, Menempuh badai, sudah biasa…
Lirik itu seakan mengiringi perjalanan saya menuju lokasi konservasi. Terik matahari masih menyengat saat perahu kayu bertenaga diesel perlahan meninggalkan dermaga. Dinakhodai Abah Aman, perahu ini membawa saya menjauh. Di antara suara mesin yang bising, air laut masih coklat keruh.
Namun, semakin jauh kami melaju, pemandangan mulai berubah. Air laut yang tadinya kecoklatan, kini perlahan memudar menjadi hijau kebiruan. Hati saya berdebar penuh penasaran. Abah Aman menoleh dan tersenyum tipis, seolah membaca pikiran saya.
Setelah hampir 1 jam lamanya, perahu kami akhirnya sampai di lokasi konservasi. Abah Aman mematikan mesinnya, dan seketika itu keheningan menyelimuti kami, hanya ada suara riak air dan angin yang berbisik. Ketika sinar matahari menembus permukaan, silau keemasan menari-nari, mengantarkan pantulan cahaya hingga ke dasar.
Dengan rasa penasaran, saya memutuskan untuk snorkeling. Sebuah taman bawah air terhampar, memancarkan pesona yang tak lekang oleh waktu. Terumbu karang, bagai kota-kota purba yang terukir dari batu, tumbuh menjulang membentuk istana dan jurang-jurang mini. Ada yang memilin bagai mawar raksasa, yang lembut dan berlekuk. Di sampingnya, batuan yang mirip kurungan ayam penuh lubang tegak berdiri karang yang mirip tanduk rusa dengan cabang-cabang runcingnya, menciptakan labirin bagi para penghuninya.
Tak jauh dari situ, ada karang yang seperti otak manusia membentang dengan pola-pola rumitnya, layaknya peta dari sebuah peradaban kuno yang hilang. Di antara bangunan-bangunan karang itu, kehidupan berdenyut dalam irama yang harmonis. Ribuan ikan melintas, bagai bintang-bintang yang jatuh dari langit. Seperti cerita film fiksi animasi berjudul Finding Nemo. Ikan Badut, si pemilik rumah di antara anemon laut yang berduri, bersembunyi malu-malu di balik tentakelnya. Gerombolan mirip Ikan Mas dengan warna oranye cerah dan ekornya yang bergelombang meliuk-liuk, memancarkan kilau kebahagiaan. Mereka semua, bersama penghuni laut lainnya, berenang dan menari dalam tarian abadi, merayakan kehidupan di bawah samudera yang damai.
Prasangka buruk saya akhirnya sirna. Ini adalah pengalaman pertama saya melihat keindahan laut Karawang. Setelah puas bersnorkeling selama setengah jam, kami pun kembali ke dermaga.
Dalam perjalanan pulang saya teringat ceramah dari seorang ulama di acara Maulid Nabi Muhammad SAW. “Lautan yang membentang luas di permukaan bumi, beserta segala isi di dalamnya merupakan bagian dari kuasa Allah SWT.” Katanya. Kemudian ia membacakan firman Allah SWT Surat An-Nahl ayat 14.
“Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.”
Senja tiba menyapa di dermaga, tim PHE ONWJ lalu memberikan waktu untuk saya beristirahat. Memanfaatkannya, saya kemudian mendekati pria sedikit tambun itu, dan menanyakan tentang program OTAK JAWARA.
Ahmad Salman Alfarisi namanya, dia menjabat sebagai Associate Monitoring Pemulihan Enviromental PHE ONWJ atau PIC (Person In Charge) orang yang bertanggungjawab atas program OTAK JAWARA di Dusun Tangkolak.
Salman menjelaskan bahwa program OTAK JAWARA telah berfokus pada pembuatan modul atau media transplantasi terumbu karang sejak tahun 2016. Program ini awalnya berjalan di Pulau Biawak, Kabupaten Indramayu, hingga tahun 2018.
Kemudian, pada tahun 2022, program diperluas ke Karawang, tepatnya di Dusun Tangkolak. Meskipun kegiatannya sama seperti di Indramayu, modul atau medianya dibuat menyerupai kandang ayam, dalam bahasa sunda disebut Paranje. Selain itu, program ini dimonitoring setiap bulan dan tahunan. Setiap tahun, mereka menargetkan untuk membuat 100 Paranje atau lebih.
“Kalau diakumulasi dari awal masuk ke Karawang sampai dengan tahun ini, kita sudah mencapai 420 modul Paranje, kita buat dan tenggelamkan di laut Karawang dengan total luas sebaran 0,28 hektar,” kata Salman. Lalu, saya bertanya. “Bagaimanakah Paranje bisa menjadi rumah ikan?”
Salman menjelaskan bahwa Paranje adalah media transplantasi karang. Pembuatannya, dicetak dengan bahan pasir, semen, dan dilubangi di beberapa sisinya, serta memiliki berat sekitar 70 kilogram. Proses transplantasinya mirip dengan menanam pohon, tetapi dilakukan di bawah laut. Caranya, bagian kecil dari induk karang dewasa dipotong secara hati-hati agar tidak merusak induknya. Bagian kecil ini kemudian ditempel atau ditanam pada Paranje dengan perekat dan diikat. Sampai saat ini, sudah lebih dari 3.400 karang yang berhasil ditanam.
“Proses tidak akan menghianati hasil.” Perlahan demi perlahan PHE ONWJ dan PAS bisa membuktikan hasilnya, yang sempat saya alami di awal perjalanan. Ada rasa haru, takjub, dan kagum yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Beberapa jam sebelum berakhirnya perjalanan, saya masih penasaran ingin mengenal lebih dalam kelompok PAS yang telah membuat ratusan Paranje. Dengan senyumnya yang khas, Dama Saputra sebagai Ketua PAS akhirnya bercerita banyak hal tentang Dusun Tangkolak.
Guratan di sudut matanya seolah menunjukkan perjuangan yang tidak mudah. Dama bercerita, tahun 90-an Dusun Tangkolak, sempat disebut tempat berkumpulnya para bandit laut pencari harta karun. Layaknya sebuah pulau Grand Line yang dikisahkan di film fiksi animasi One Piece, di mana perairan itu penuh dengan misteri dan bahaya. Mereka mengincar harta yang tersembunyi di kedalaman laut, seperti halnya para bajak laut di One Piece yang berlomba-lomba mencari Poneglyphs atau harta karun legendaris lainnya.
Warga setempat dan para pemburu harta karun dari luar Karawang menyelam di kedalaman perairan Sendulang, yang dikenal sebagai area kuburan kapal. Dama menyebutkan bahwa mereka menyelam dengan bantuan kompresor sebagai pengganti tabung oksigen.
“Waktu itu benar-benar gila perburuan tanpa memperhatikan keselamatan,” kata Dama.
Bukan itu saja, salah satu anggota PAS yang saat itu duduk di samping Dama juga mengisahkan maraknya pengambilan karang untuk pondasi rumah. Dia bernama Nanang Sai, lelaki yang lahir tahun 1975 dan kini genap berusia 50 tahun. Entah siapa yang memulai, kata Nanang. Masa itu saat ia masih di bangku SD (Sekolah Dasar) warga berbondong-bondong mengangkut batu karang untuk pondasi rumah. “Masa itu saya masih bantu-bantu ayah jadi kuli angkut karang. Ada yang mau bangun rumah, butuh pondasi, kalau dihitung saat ini, diupah sekitar lima puluh ribu,” tambah Nanang.
Akibatnya, kerusakan terumbu karang terjadi, ikan-ikan kehilangan rumah dan kabur, sehingga nelayan pun kesulitan mendapat tangkapan. Kisah kelam itu menjadi pelajaran berharga bagi Dama dan Nanang.
“Kami semua belajar, bahwa alam itu harus kita jaga. Kalau kita baik sama alam, alam juga akan baik sama kita,” ujar Dama dengan mata berkaca-kaca. Nanang Sai menambahkan, “Saya bangga bisa jadi bagian dari ini. Dulu saya ikut merusak, sekarang saya ikut membangun. Rasanya plong.”
Matahari mulai tenggelam di cakrawala. Warna jingga dan ungu menghiasi langit. Perjalanan saya di Dusun Tangkolak, sebuah desa yang tadinya saya pandang sebelah mata, kini berakhir dengan rasa takjub dan haru.
Saya meninggalkan tempat itu dengan membawa sebuah pelajaran berharga. Bahwa, tak peduli seburuk apa pun masa lalu, selalu ada kesempatan untuk berubah. Dan perubahan itu, sekecil apa pun, bisa menciptakan keajaiban yang luar biasa. Seperti halnya kisah para keturunan bandit laut di Dusun Tangkolak. Berkat kehadiran PHE ONWJ, mereka kini dikenal sebagai penyelamat terumbu karang di perairan Sendulang.***
- Penulis: Yuda Febrian Silitonga
